Sabtu, 05 Maret 2016

Harta karun

Adalah yang tersembunyi diantara yang terserak
Diantara yang tidak kentara
Janganlah yang dianggap papa
Adalah keterbatasan
Bukanlah ketidak-lebihan
Adalah ketidak-bahagiaan
Satu benih menerbitkan seribu kemungkinan
Satu kemungkinan menyemai seribu harapan
Tak terlalu serakah
Ingin menggapai bulan,
Hanya menikmati pendarnya
Dikejauhan.....cukup.

Memanglah tak cukup
Hanya dengan merajut
Jika tangan tak menari dan berkeringat
Kadangkala bergetah memerah, perih

Selalukah sepadan
Antara tangga dan tapak kaki
Antara roman dan picisan
Aahhh...masih ada irama pelangi..

Yang dilantunkan ditengah keterlelapan
Yang dilambungkan sayap melangit
Terjawablah kelak
Cepat ataupun lambat.

Jumat, 04 Maret 2016

Catatan Jaga Ujian

Teeett.....teeettt..teeettt...!!!!
Bel tanda masuk berbunyi dengan lantang. Menggema di selasar petak kelas per-kelas. Ada detak gugup menelusup di sebagian anak-anak, tapi ada juga yang sesantai hari biasa.
Jelas sewajarnya dalam menghadapi ujian, apa pun itu pasti ada gelagat keseriusan.


Tapi hal itu seakan tak berlaku di lingkungan madrasah yang notabene anak-anak yang berdomisili di Pondok Pesantren. Coba sesekali tengoklah kelas putra, entah apa pun jurusannya, pasti terdapat satu, dua, tiga, empat, lima anak yang tidur dengan pulasnya saat ujian. Terlebih matematika dan fisika. Tak lebih seperti jamur di awal musim hujan.


Mungkin semalam tahajudan hingga subuh, mungkin "ngaji" sampai larut malam dan seabreg rutinitas pondok lainnya. Tapi itu tidaklah seratus satu persen benar. Setiap ma'had pasti ada ngaji diniyyah dari pukul 8 hingga pukul 9 malam. Dilanjut takror -belajar bersama- hanya sampai pukul 10 malam. Itupun kadang dengan diselingi "ethok-ethok" bawa buku saja, aslinya yaaa...ngobrolisasi.


Diberlakukannya jam malam yang ditandai dengan raungan sirine melengking panjang -mirip di area lapas- diharapkan bisa meminimalisir begadangnya para santriwan di warkop, terlebih di luar ma'had dan diharapkan santri bisa beraktifitas sesuai jadwal. Tapi toh tetap saja ada santri begadang hingga pukul 3 dini hari. Entah apa saja yang dijadikan topik, tapi pastinya akan mereda tepat saat qiyamul lail seharusnya diistiqomahkan.


Ketika adzan subuh dikumandangkan, tentulah mereka sedang nyenyak- nyenyaknya dibuai impian. Dengan terkantuk-kantuk mencoba mengambil air wudlu, bergiliran. Terkantuk-kantuk melantunkan "pujian" dengan sesekali salah bacaan. Selesai jama'ah, masih istiqomah membaca al-Waqi'ah dan al-Mulk lalu bandongan kitab-kitab salaf dikaji hingga menu sarapan selesai disuguhkan.


Jika ada yang bertanya dimanakah hukum alam itu berlaku? Di sini jawabnya. Siapa yang cepat, ia dapat, siapa yang kuat, ia yang menang. Dapat tempat makan, menang berebut menu. Tinggallah yang terakhir bersisa nasi kuah saja, itu pun lebih beruntung dari pada hanya nasi, sekepal.


Masih harus berbudaya "ngantri" lagi untuk bisa mandi tanpa harus menahan BAB dan BAK. Tak masalah jika harus tidur dan kusut lagi karna kepagian mandi. Yang penting -sudah- mandi. Sudah -sarapan dan mandi- dimadrasah tinggal pulas tertidur.


Apakah dengan begitu, ada toleransi dalam diri sendiri untuk -sekedar- memaklumi karna rutinitas pondok???
Akankah ada solusi menanggulangi -adat- pulas tertidur di madrasah???
Ataukah memang itu merupakan bagian dari dinamika santri???

Jika kamu santri, apa yang kamu fikirkan???